Senin, 02 Mei 2011

Tenaga Kerja dalam Ekonomi Pertanian


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Dalam dunia usaha Pertanian terdapat beberapa faktor produksi. Salah satunya Faktor Tenaga Kerja. Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam produktivitas pertanian. Pada awalnya, penggunaan tenaga kerja dalam pengolahan lahan pertanian masih dilakukan oleh orang perorangan (keluarga inti), namun pada perkembangan selanjutnya pemilik lahan pertanian akan menerima bantuan dari tetangga dikarenakan tebaga kerja yang berasal dari keluarga tidak cukup untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja sedangkan lahan yang harus dikerjakan luas. Dengan imbalannya pada saat tetangga membutuhkan bantuan untuk lahan miliknya, mereka akan saling membantu.
Pada masa kini, pertanian yang luas merupakan permasalahan yang sangat komplek yakni menyangkut 4 faktor produksi pertanian. Dalam hal faktor tenaga kerja petani modern sudah menyewa tenaga kerja dengan imbalan upah. Dengan adanya mekanisasi dalam bidang pertanian, kebutuhan akan tenaga kerja manusia maupun hewan semakin rendah. Walau demikian, yang meningkat adalah kebutuhan akan tenaga kerja manusia yang berpotensi tinggi dan punya keterampilan dalam mengoperasikan alat-alat tersebut.
2.      Rumusan Masalah
1.      Pengertian Tenaga Kerja
2.      Fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja
3.      Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi
4.      Produktivitas Tenaga Kerja
5.      Mobilitas dan Efisiensi Tenaga Kerja
3.      Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian tenaga Kerja
2.      Mengetahui fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja
3.      Mengetahui Fungsi Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi
4.      Mengetahui Efektivitas Tenaga Kerja
5.      Mengetahui dampak Mobilitas sebagai Perluasan Tenaga Kerja
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Tenaga Kerja
Menurut KamusBesar Bahasa Indonesia, tenaga artinya
-          daya yg dapat menggerakkan sesuatu
-          kegiatan bekerja, berusaha dsb
-          orang yg bekerja atau mengerjakan sesuatu
sedangkan kerja artinya kegiatan melakukan sesuatu.
Sumber daya Manusia (human resource) adalah tenaga kerja yang mampu bekerja melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang mempunyai nilai ekonomis dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tenaga kerja (man power) adalah semua penduduk dalam usia kerja (working age population).

2.      Fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja
Dalam jangka pendek faktor tenaga kerja dianggap sebagai faktor produksi variabel yang penggunaannya berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi.
Yang dimaksudkan disini adalah kedudukan petani dalam usahatani, yakni tidak hanya sebagai penyumbang tenaga kerja (labour) melainkan menjadi seorang manajer pula. Kedudukan si petani sangat menentukan dalam usahatani. Dalam usahatani yang semakin besar, maka petani makin tidak mampu merangkap kedua fungsi itu. Fungsi sebagai tenaga kerja harus dilepaskan, dan memusatkan diri pada fungsi sebagai pemimpin usahatani (manajer)..

3.      Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi
Faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah:

1.)    Tersedianya tenaga kerja
Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan ini memang masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja.
2.)    Kualitas tenaga kerja
Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian atau bukan, selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenaga kerja spesialisasi ini diperlukan sejumlah tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, dan ini tersedianya adalah dalam jumlah yang terbatas. Bila masalah kualitas tenaga kerja ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi kemacetan dalam proses produksi. Sering dijumpai alat-alat teknologi canggih tidak dioperasikan karena belum tersedianya tenaga kerja yang mempunyai klasifikasi untuk mengoperasikan alat tersebut.
3.)    Jenis kelamin
Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses produksi pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah, dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanam.
4.)    Tenaga kerja musiman
Pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi pengangguran semacam ini, maka konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi musiman (Soekartawi, 2003).
Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja keluarga ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak perlu dinilai dengan uang tetapi terkadang juga membutuhkan tenaga kerja tambahan misalnya dalam penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung sehingga besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh jenis kelamin. Upah tenaga kerja pria umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan upah tenaga kerja wanita. Upah tenaga kerja ternak umumnya lebih tinggi daripada upah tenaga kerja manusia ( Mubyarto, 1995). Soekartawi (2003), Umur tenaga kerja di pedesaan juga sering menjadi penentu besar kecilnya upah. Mereka yang tergolong dibawah usia dewasa akan menerima upah yang juga lebih rendah bila dibandingkan dengan tenaga kerja yang dewasa. Oleh karena itu penilaian terhadap upah perlu distandarisasi menjadi hari kerja orang (HKO) atau hari kerja setara pria (HKSP). Lama waktu bekerja juga menentukan besar kecilnya tenaga kerja makin lama jam kerja, makin tinggi upah yang mereka terima dan begitu pula sebaliknya. Tenaga kerja bukan manusia seperti mesin dan ternak juga menentukan basar kecilnya upah tenaga kerja. Nilai tenaga kerja traktor mini akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja orang, karena kemampuan traktor tersebut dalam mengolah tanah yang relatif lebih tinggi. Begitu pula halnya tenaga kerja ternak, nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja traktor karena kemampuan yang lebih tinggi daripada tenaga kerja tersebut (Soekartawi, 2003).
Sebagai salah satu dari faktor produksi, dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas, SDM sangat dipengaruhi oleh pasar tenaga kerja, pertemuan antara penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja.
Berhasilnya usaha peningkatan produksi maupun faktor-faktor produksi menjadi salah satu ukuran bagi kemajuan pembangunan ekonomi. Pembinaan terhadap petani diarahkan sehingga menghasilkan penngkatan pendapatan petani. Kebijaksanaan dasar pembangunan pertanian mencakup aspek produksi, pemasaran, dan kelembagaannya dan memungkinkan dukungan yang kuat terhadap pembangunan industri.

4.      Produktivitas Tenaga Kerja
Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu.
Peningkatan produktivitas faktor manusia merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas faktor-faktor lain sangat tergantung pada kemajuan tenaga manusia yang memanfaatkannya.
Kualitas dan kemampuan dipengaruhi : Tingkat pendidikan, Latihan/pengalaman, Motivasi, Etos kerja, mental dan fisik. Sedangkan sarana pendukung produktivitas yakni lingkungan kerja dan kesejahteraan karyawan.
Faktor-faktor ang mempengaruhi kepuasan kerja; gaji, pekerjaan itu sendiri, rekan sekerja, atasan, promosi, dan lingkungan kerja.
Gaji adalah balas jasa dalam bentuk uang yang diterima pekerja sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang pegawai yang memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan. Gaji merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk bekerja dan barangkali merupakan alasan yang paling penting diantara yang lain seperti untuk berpretasi, atau mengembangkan diri. Tujuan perusahaan memberikan gaji dalam meningkatkan kepuasan kerja antara lain, memotivasi pegawai, merangsang pegawai baru yang berkualitas untuk memasuki organisasi, mempertahankan pegawai yang ada serta meningkatkan produktivitas.
Produktivitas rendah karena;
-          Teknologi yang dipakai masih didominasi oleh teknologi tradisional.
-          Rendahnya laju pertumbuhan daya serap tenaga kerja
-          Rendahnya kualitas sumber daya pertanian dan rendahnya curahan jam kerja
-          Upah yang rendah
-          Tingkat pendidikan dan tingkat keterampilan yang rendah.

5.      Mobilitas dan Efisiensi Tenaga Kerja
Perluasan kesempatan  kerja  merupakan  salah  satu  sasar­an pokok pembangunan, di samping peningkatan produksi na­sional dan pemerataan hasil-hasil dan kegiatan pembangunan. Dengan demikian usaha perluasan kesempatan kerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha-usaha meningkatkan produksi dan pemerataan hasil serta kegiatan pembangunan.
Usaha-usaha pengembangan produksi di sektor-sektor yang banyak memerlukan tenaga kerja, seperti sektor pertanian,  industri kecil, dan industri ekspor, pada hakekatnya juga me­rupakan usaha-usaha meningkatkan lapangan kerja, baik dalam arti menciptakan lapangan kerja baru maupun dalam arti me­ningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka yang telah mempunyai pekerjaan dalam lapangan kerja yang ada.
Usaha-­usaha pembangunan di daerah pedesaan, seperti pembangunan sekolah dasar dan pusat kesehatan masyarakat, memberikan kesempatan  pendidikan  lebih  luas  kepada  masyarakat pedesa­an dan meningkatkan pula tingkat  kesehatan  masyarakat.  Hal-­hal ini pun memperluas kesempatan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan meningkatkan pula intensitas dan produktivitas kerja.


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan hal-hal sebagai berikut :
a.    Tenaga kerja (man power) adalah semua penduduk dalam usia kerja (working age population).
b.   Petani dalam usahatani, yakni tidak hanya sebagai penyumbang tenaga kerja (labour) melainkan menjadi seorang manajer pula.
c.       Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah:
tersedianya tenaga kerja, kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, dan tenaga kerja yang bersifat musiman.
d.   Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu
e.    Dengan adanya mobilitas penduduk, penyebaran tenaga kerja semakin merata ke seluruh Indonesia.

2.      Saran
Dari beberapa hal yang dibahas, kita tahu bahwa tenaga kerja merupakan factor penting dalam pembangunan ekonomi bangsa ini. Maka diharapkan pemerintah dapat mambuat dan menjalankan program peningkatan sumber daya manusia khususnya tenaga kerja bidang pertanian agar menciptakan tenaga-tenaga pertanian yang berdaya guna menghasilkan produk pertanian demi kesejahteraan bangsa. Kita pun sebagai masyarakat hendaknya memberikan kontribusi yang baik dalam program-program yang direncanakan pemerintah, agar semuanya berjalan secara seimbang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar