Rabu, 04 Mei 2011

Beberapa Cara Pengelolaan Bahan Organik

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah baik secara fisika, kimia, maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik merupakan bahan pemantap agregat tanah, sumber hara tanaman, sumber energy sebagaian organisme tanah dan sekitar setengah dari kapasitas tukar kation berasal dari bahan organik. Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.
Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian batuan.


2. Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai beberapa cara pengelolaan bahan organik tanah yakni sebagai berikut :
a. Rasio Karbon-Nitrogen dan Dekomposisi Residu Organik
b. Pengaruh Pupuk Hijau
c. Penggunaan Peat
d. Akumulasi Unsur Hara pada Sistem Pertanian Shifting Cultivation

3. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar dapat mengetahui dan memahami beberapa cara pengelolaan bahan organik dalam kaitannya dengan tingkat kesuburan tanah dan produktivitas pertanian.

BAB II
PEMBAHASAN

Pada tanah-tanah yang bukan tanah pertanian dimana tumbuh-tumbuhan tumbuh secara alamiah, kandungan bahan organiknya lebih tinggi daripada tanah-tanah pertanian. Apabila tanah-tanah bukan pertanian ini dibuka dan dijadikan tanah pertanian maka lama kelamaan jumlah bahan organiknya menurun. Kehilangan terbesar terjadi pada awal penanaman dan jumlah yang hilang ini melebihi jumlah yang terakumulasi setiap tahun. Kehilangan ini menyebabkan penurunan kesuburan tanah tersebut karena bahan organik yang berasal dari tanaman mengandung semua nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Hewan-hewan tanah juga tergantung pada bahan organik sebagai sumber makanan. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan bahan organik tanah agar tanah lebih produktif. Beberapa cara pengelolaan bahan organik antara lain :
1. Rasio Karbon-Nitrogen dan Dekomposisi Residu Organik
Rasio karbon terhadap nitrogen adalah karbon berbanding nitrogen ( C: N). C: N
rasio bahan organik yang ditambahkan ke tanah mempengaruhi laju dekomposisi
organik materi. Jika bahan organik yang ditambahkan mengandung nitrogen lebih dalam proporsi karbon, maka nitrogen dilepaskan ke tanah dari bahan organik yang membusuk.
Di sisi lain, jika bahan organik memiliki jumlah kurang nitrogen dalam kaitannya dengan
karbon maka mikroorganisme akan memanfaatkan nitrogen tanah untuk dekomposisi lebih lanjut dan nitrogen tanah akan bergerak dan tidak akan tersedia.
Sebagai bahan organik segar terurai, mikroba menggunakan 75% dari karbon untuk energi dan, sisa 25% dari karbon yang digunakan untuk membentuk jaringan baru mereka. Untuk membentuk jaringan baru mereka, mikroba menggunakan nitrogen dari tanah atau dari bahan organik ditambahkan. Keseimbangan POSITIF menunjukkan bahwa N dalam bahan organik lebih diperlukan untuk mikroba, dan jumlah kelebihan N yang dilepaskan ke tanah dapat tersedia bagi tanaman.
Bahan-bahan tanaman yang mempunyai rasio C:N yang sempit menandung banyak nitrogen. Sebaliknya, bahan-bahan tanaman yang mengandung rasio yang lebar atau tinggi maka bahan-bahan tersebut mengandung sedikit nitrogen. Jika residu tanaman punya rasio rendah maka mikroorganisme akan kekurangan nitrogen dan akan berkompetisi dengan tanaman untuk mendapatkan nitrogen. Untuk menghindari adanya kompetisi tersebut, dapat dilakukan beberapa hal yaitu :
a. Tidak mengembalikan residu organik yang mempunyai rasio C:N yang besar ke dalam tanah.
b. Menambahkan pupuk nitrogen jika dilakukan penanaman segera setelah residu tersebut dibenamkan ke dalam tanah.
c. Residu organik tersebut dikomposkan sebelum dibenamkan ke dalam tanah.
Beberapa cara tersebut dapat mensuplai nitrogen yang cukup bagi mikroorganisme dan tanaman.

2. Pengaruh Pupuk Hijau
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah, biasanya berupa pupuk. Pupuk merupakan bahan alami yang ditambahkan pada tanah supaya kesuburan tanah dapat meningkat. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari alam yaitu dari sisa-sisa organisme hidup baik sisa tanaman maupun sisa hewan yang mengandung unsur-unsur hara baik makro maupun mikro yang yang dibutuhkan oleh tumbuhan supaya dapat tumbuh dengan subur. Pupuk organik terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, diombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur-usur yang dapat digunakan oleh tanaman, tanpa mencemari tanah dan air.
Pupuk organik dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair biasanya berupa saringan dari pupuk padat. Pupuk padat dapat berupa pupuk hijau, pupuk serasah, kompos, maupun pupuk kandang. Kesemuanya akan berpengaruh positif terhadap tanah jika pemberiannya ke tanah setelah pupuk.
Pupuk hijau adalah tanaman atau bagian-bagian tanaman yang masih muda yang dibenamkan kedalam tanah dengan tujuan untuk menambah bahan organik dan unsur hara terutama nitrogen kedalam tanah. Dari segi biokimia keuntungan dari pemakaian pupuk hijau dapat dikatakan bahwa dengan pemakaian pupuk hijau berarti menambah persediaan bahan organik tanah. Disamping itu, tanaman calon pupuk hijau yang tumbuh mempunyai pengaruh terhadap pengawetan hara tanah karena mengabsorpsi hara, selain itu tanaman pupuk hijau berfungsi sebagai tanaman penutup tanah (cover crop). Jenis tanaman yang banyak digunakan adalah dari familia Leguminoceae atau kacang-kacangan dan jenis rumput-rumputan (rumput gajah). Jenis tersebut dapat menghasilkan bahan organik lebih banyak, daya serap haranya lebih besar dan mempunyai bintil akar yang membantu mengikat nitrogen dari udara. Keuntungan penggunaan pupuk hijau antara lain :
a. Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air
b. mencegah adanya erosi
c. dapat membantu mengendalikan hama dan penyakit yang berasal dari tanah dan gulma
d. sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk inorganic
Namun pupuk hijau juga memiliki kekurangan yaitu :
a. tanaman hijau dapat sebagai kendala dalam waktu, tenaga, lahan, dan air
b. pada pola tanam yang menggunakan rotasi dengan tanaman legume dapat mengundang hama ataupun penyakit
c. dapat menimbulkan persaingan dengan tanaman pokok dalam hal tempat, air dan hara pada pola pertanaman tumpang sari.

3. Penggunaan Peat
Peat yang biasa digunakan untuk peningkatan atau perbaikan tanah umumnya diklasifikasikan sebagai peat lumut (moss peat), peat rumput (reed-sedge peat) dan peat humus. Bahan-bahan ini umumnya telah mengalami proses komposisi. Bila diaplikasikan ke tanah akan mengalami dekomposisi secara lambat. Peat mengandung sedikit fosfor dan kalium serta melepaskan nitrogen secara perlahan-lahan. Peat paling banyak digunakan untuk pemulsaan dan percobaan dirumah kaca yang dicampur dengan tanah. Peat mempunyai pH yang rendah sehingga cocok untuk digunakan sebagai mulsa bagi tanaman-tanaman yang tumbuh pada pH rendah. Mulsa atau penutup tanah sangat penting dan berpengaruh positif terhadap tanah maupun tanaman. Dalam peranannya untuk peningkatan kesuburan tanah, mulsa yang paling baik adalah mulsa yang berasal dari limbah pertanian seperti jerami padi, seresah dan ilalang, tidak dari plastik. Selain fungsinya untuk menjaga kelembaban tanah, setelah mulsa membusuk akan berguna sebagai pupuk organik yang memperbaiki struktur dan tekstur tanah. Tanah yang tidak menggunakan mulsa akan mudah terkena erosi bila erkena air hujan maupun pecah-pecah apabila terlalu banyak penguapan. Seperti diketahui bahwa erosi akan memperburuk kesuburan tanah dan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta tanaman menjadi mudah roboh. Sedangkan kondisi tanah yang pecah-pecah akan berpengaruh buruk pada perakaran tanaman berupa putusnya akar. Dengan adanya mulsa, air hujan yang jatuh akan meresap ke bawah sehingga tidak terjadi aliran permukaan. Selanjutnya dengan penguapan yang sedikit, air tanah tetap tersedia bagi tanaman, karena mulsa berguna untuk mengurangi penguapan, mencegah erosi, menjaga kelembaban tanah, dan sebagai sumber penambah hara setelah menjadi pupuk hijau, lahan pertanaman yang menggunakan mulsa akan menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.

4. Akumulasi Unsur hara pada Sistem Pertanian Shifting Cultivation
Sistem Pertanian Shifting cultivation adalah bertani dengan membuka ladang di daerah yang belum pernah dijamah. Tanaman yang diusahakan disana menggunakan unsur hara yang berasal dari bahan organik yang terakumulasi selama bertahun-tahun dan tidak ada penggunaan pupuk kimia. Setelah dua atau tiga tahun, nutrisi akan semakin sedikit dan gulma serta penyakit mulai berdatangan menyebabkan tanah tidak subur lagi. Ladang tersebut kemudian ditinggalkan dan hutan baru akan terbentuk lagi. Diperlukan lebih dari 10-20 tahun untuk akumulasi unsur hara pada hutan tersebut, sebelum dibuka lagi untuk pertanian.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang sangat baik. dan merupakan sumber dari unsur hara tumbuhan. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi dari sebagian besar organisme tanah. Bahan organik memainkan beberapa peranan penting di tanah. Sebab bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan. Bahan organik dapat diperoleh dari residu tanaman sepert akar, batang, daun yang gugur, yang dikembalikan ke tanah. Residu tanaman dan hewan yang dikembalikan ke dalam tanah akan mengalami dekomposisi. Selama proses dekomposisi berlangsung akan dikeluarkan unsur-unsur hara yang diperlukan oleh mikroorganisme dan tanaman tingkat tinggi. Hasil akhirnya adalah humus. Dengan dikeluarkannya unsur-unsur hara akan meningkatkan kesuburan tanah sehingga tanaman akan tumbuh dengan baik. Selanjutnya proses akan berulang kembali bila residu tanaman dikembalikan ke dalam tanah. Apabila sisa-sisa tanaman segar ditambahkan ke dalam tanah, nitrogen di dalam tanaman itu dapat terdekomposisi dan termineralisasi oleh mikrrorganisme dan segera tersedia bagi tanaman, atau nitrogen itu mungkin tidak termineralisasi dan tidak tersedia bagi tanaman. Pembenaman bahan organik segar dengan rasio C:N tinggi, yang kemudian segera diikuti dengan penanaman memerlukan nitrogen tambahan. Alternatif lain, waktu tanam ditunda dulu agar dekomposisi berkesempatan berlangsung lebih lanjut dahulu beberapa hari. Bahan organik segar dengan rasio C:N kecil bisa lebih baik dan tanahnya dapat langsung ditanami. Tanah – tanah, terutama untuk pembibitan, yang rasio C:N-nya tinggi selalu memerlukan pupuk nitrogen yang cepat tersedia agar defisiensi nitrogen tidak terjadi.



2. Saran
Agar tanah lebih produktif perlu adanya pengelolaan bahan organik tanah antara lain : menghindari adanya kompetisi nitrogen bila residu organik yang ditambahkan ke dalam tanah mempunyai rasio karbon:nitrogen yang besar, pengaruh pupuk hijau, penggunaan peat dan akumulasi unsur hara pada sistem pertanian shifting cultivation.

Senin, 02 Mei 2011

Tenaga Kerja dalam Ekonomi Pertanian


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Dalam dunia usaha Pertanian terdapat beberapa faktor produksi. Salah satunya Faktor Tenaga Kerja. Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam produktivitas pertanian. Pada awalnya, penggunaan tenaga kerja dalam pengolahan lahan pertanian masih dilakukan oleh orang perorangan (keluarga inti), namun pada perkembangan selanjutnya pemilik lahan pertanian akan menerima bantuan dari tetangga dikarenakan tebaga kerja yang berasal dari keluarga tidak cukup untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja sedangkan lahan yang harus dikerjakan luas. Dengan imbalannya pada saat tetangga membutuhkan bantuan untuk lahan miliknya, mereka akan saling membantu.
Pada masa kini, pertanian yang luas merupakan permasalahan yang sangat komplek yakni menyangkut 4 faktor produksi pertanian. Dalam hal faktor tenaga kerja petani modern sudah menyewa tenaga kerja dengan imbalan upah. Dengan adanya mekanisasi dalam bidang pertanian, kebutuhan akan tenaga kerja manusia maupun hewan semakin rendah. Walau demikian, yang meningkat adalah kebutuhan akan tenaga kerja manusia yang berpotensi tinggi dan punya keterampilan dalam mengoperasikan alat-alat tersebut.
2.      Rumusan Masalah
1.      Pengertian Tenaga Kerja
2.      Fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja
3.      Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi
4.      Produktivitas Tenaga Kerja
5.      Mobilitas dan Efisiensi Tenaga Kerja
3.      Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian tenaga Kerja
2.      Mengetahui fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja
3.      Mengetahui Fungsi Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi
4.      Mengetahui Efektivitas Tenaga Kerja
5.      Mengetahui dampak Mobilitas sebagai Perluasan Tenaga Kerja
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Tenaga Kerja
Menurut KamusBesar Bahasa Indonesia, tenaga artinya
-          daya yg dapat menggerakkan sesuatu
-          kegiatan bekerja, berusaha dsb
-          orang yg bekerja atau mengerjakan sesuatu
sedangkan kerja artinya kegiatan melakukan sesuatu.
Sumber daya Manusia (human resource) adalah tenaga kerja yang mampu bekerja melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang mempunyai nilai ekonomis dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tenaga kerja (man power) adalah semua penduduk dalam usia kerja (working age population).

2.      Fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja
Dalam jangka pendek faktor tenaga kerja dianggap sebagai faktor produksi variabel yang penggunaannya berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi.
Yang dimaksudkan disini adalah kedudukan petani dalam usahatani, yakni tidak hanya sebagai penyumbang tenaga kerja (labour) melainkan menjadi seorang manajer pula. Kedudukan si petani sangat menentukan dalam usahatani. Dalam usahatani yang semakin besar, maka petani makin tidak mampu merangkap kedua fungsi itu. Fungsi sebagai tenaga kerja harus dilepaskan, dan memusatkan diri pada fungsi sebagai pemimpin usahatani (manajer)..

3.      Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi
Faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah:

1.)    Tersedianya tenaga kerja
Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan ini memang masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja.
2.)    Kualitas tenaga kerja
Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian atau bukan, selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenaga kerja spesialisasi ini diperlukan sejumlah tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, dan ini tersedianya adalah dalam jumlah yang terbatas. Bila masalah kualitas tenaga kerja ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi kemacetan dalam proses produksi. Sering dijumpai alat-alat teknologi canggih tidak dioperasikan karena belum tersedianya tenaga kerja yang mempunyai klasifikasi untuk mengoperasikan alat tersebut.
3.)    Jenis kelamin
Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses produksi pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah, dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanam.
4.)    Tenaga kerja musiman
Pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi pengangguran semacam ini, maka konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi musiman (Soekartawi, 2003).
Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja keluarga ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak perlu dinilai dengan uang tetapi terkadang juga membutuhkan tenaga kerja tambahan misalnya dalam penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung sehingga besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh jenis kelamin. Upah tenaga kerja pria umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan upah tenaga kerja wanita. Upah tenaga kerja ternak umumnya lebih tinggi daripada upah tenaga kerja manusia ( Mubyarto, 1995). Soekartawi (2003), Umur tenaga kerja di pedesaan juga sering menjadi penentu besar kecilnya upah. Mereka yang tergolong dibawah usia dewasa akan menerima upah yang juga lebih rendah bila dibandingkan dengan tenaga kerja yang dewasa. Oleh karena itu penilaian terhadap upah perlu distandarisasi menjadi hari kerja orang (HKO) atau hari kerja setara pria (HKSP). Lama waktu bekerja juga menentukan besar kecilnya tenaga kerja makin lama jam kerja, makin tinggi upah yang mereka terima dan begitu pula sebaliknya. Tenaga kerja bukan manusia seperti mesin dan ternak juga menentukan basar kecilnya upah tenaga kerja. Nilai tenaga kerja traktor mini akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja orang, karena kemampuan traktor tersebut dalam mengolah tanah yang relatif lebih tinggi. Begitu pula halnya tenaga kerja ternak, nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja traktor karena kemampuan yang lebih tinggi daripada tenaga kerja tersebut (Soekartawi, 2003).
Sebagai salah satu dari faktor produksi, dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas, SDM sangat dipengaruhi oleh pasar tenaga kerja, pertemuan antara penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja.
Berhasilnya usaha peningkatan produksi maupun faktor-faktor produksi menjadi salah satu ukuran bagi kemajuan pembangunan ekonomi. Pembinaan terhadap petani diarahkan sehingga menghasilkan penngkatan pendapatan petani. Kebijaksanaan dasar pembangunan pertanian mencakup aspek produksi, pemasaran, dan kelembagaannya dan memungkinkan dukungan yang kuat terhadap pembangunan industri.

4.      Produktivitas Tenaga Kerja
Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu.
Peningkatan produktivitas faktor manusia merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas faktor-faktor lain sangat tergantung pada kemajuan tenaga manusia yang memanfaatkannya.
Kualitas dan kemampuan dipengaruhi : Tingkat pendidikan, Latihan/pengalaman, Motivasi, Etos kerja, mental dan fisik. Sedangkan sarana pendukung produktivitas yakni lingkungan kerja dan kesejahteraan karyawan.
Faktor-faktor ang mempengaruhi kepuasan kerja; gaji, pekerjaan itu sendiri, rekan sekerja, atasan, promosi, dan lingkungan kerja.
Gaji adalah balas jasa dalam bentuk uang yang diterima pekerja sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang pegawai yang memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan. Gaji merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk bekerja dan barangkali merupakan alasan yang paling penting diantara yang lain seperti untuk berpretasi, atau mengembangkan diri. Tujuan perusahaan memberikan gaji dalam meningkatkan kepuasan kerja antara lain, memotivasi pegawai, merangsang pegawai baru yang berkualitas untuk memasuki organisasi, mempertahankan pegawai yang ada serta meningkatkan produktivitas.
Produktivitas rendah karena;
-          Teknologi yang dipakai masih didominasi oleh teknologi tradisional.
-          Rendahnya laju pertumbuhan daya serap tenaga kerja
-          Rendahnya kualitas sumber daya pertanian dan rendahnya curahan jam kerja
-          Upah yang rendah
-          Tingkat pendidikan dan tingkat keterampilan yang rendah.

5.      Mobilitas dan Efisiensi Tenaga Kerja
Perluasan kesempatan  kerja  merupakan  salah  satu  sasar­an pokok pembangunan, di samping peningkatan produksi na­sional dan pemerataan hasil-hasil dan kegiatan pembangunan. Dengan demikian usaha perluasan kesempatan kerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha-usaha meningkatkan produksi dan pemerataan hasil serta kegiatan pembangunan.
Usaha-usaha pengembangan produksi di sektor-sektor yang banyak memerlukan tenaga kerja, seperti sektor pertanian,  industri kecil, dan industri ekspor, pada hakekatnya juga me­rupakan usaha-usaha meningkatkan lapangan kerja, baik dalam arti menciptakan lapangan kerja baru maupun dalam arti me­ningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka yang telah mempunyai pekerjaan dalam lapangan kerja yang ada.
Usaha-­usaha pembangunan di daerah pedesaan, seperti pembangunan sekolah dasar dan pusat kesehatan masyarakat, memberikan kesempatan  pendidikan  lebih  luas  kepada  masyarakat pedesa­an dan meningkatkan pula tingkat  kesehatan  masyarakat.  Hal-­hal ini pun memperluas kesempatan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan meningkatkan pula intensitas dan produktivitas kerja.


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan hal-hal sebagai berikut :
a.    Tenaga kerja (man power) adalah semua penduduk dalam usia kerja (working age population).
b.   Petani dalam usahatani, yakni tidak hanya sebagai penyumbang tenaga kerja (labour) melainkan menjadi seorang manajer pula.
c.       Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah:
tersedianya tenaga kerja, kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, dan tenaga kerja yang bersifat musiman.
d.   Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu
e.    Dengan adanya mobilitas penduduk, penyebaran tenaga kerja semakin merata ke seluruh Indonesia.

2.      Saran
Dari beberapa hal yang dibahas, kita tahu bahwa tenaga kerja merupakan factor penting dalam pembangunan ekonomi bangsa ini. Maka diharapkan pemerintah dapat mambuat dan menjalankan program peningkatan sumber daya manusia khususnya tenaga kerja bidang pertanian agar menciptakan tenaga-tenaga pertanian yang berdaya guna menghasilkan produk pertanian demi kesejahteraan bangsa. Kita pun sebagai masyarakat hendaknya memberikan kontribusi yang baik dalam program-program yang direncanakan pemerintah, agar semuanya berjalan secara seimbang.

Selasa, 23 November 2010

Pengantar Sosiologi Pertanian


PENGANTAR SOSIOLOGI PERTANIAN

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat, dalam pelbagai aspek (Green: 1960 dalam Raharjo 1999). Dalam mempelajari sosiologi, yang menjadi sasaran studinya adalah masyarakat yang di dalamnya menyangkut struktur, proses, dan perubahan sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, sosiologi dikembangkan ke dalam beberapa bidang studi menurut tempat tinggal atau bidang dimana sekelompok orang yang secara sadar merupakan kesatuan dan membentuk system hidup bersama. Salah satunya adalah Sosiologi Pedesaan atau bisa juga disebut sebagai sosiologi Pertanian karena umumnya masyarakat yang tinggal di desa memiliki mata pencaharian sebagai seorang petani.

Sosiologi pedesaan merupakan suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan antar kelompok yang ada di lingkungan pedesaan (Priyotamtomo:2001) Sosiologi Pertanian (Agricultural Sociology) sering disamakan dengan sosiologi Pedesaan (Rural Sociology) namun berlaku jika penduduk desa terutama hidup dari pertanian. Semakin sedikit kegiatan pertanian di desa tersebut, maka semakin layak sosiologi pedesaan dipisahkan dari sosiologi pertanian. Sosiologi pedesaan adalah sosiologi tentang struktur dan proses-proses sosial yang terjadi di pedesaan. Bidang kajian ini menekankan pada masyarakat pedesaan dan segala dinamikanya yang antara lain menyangkut struktur sosial, proses sosial, mata pencaharian, pola perilaku, serta berbagai transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Objek sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus-menerus atau untuk sementara tinggal di pedesaan. Dengan kata lain, sosiologi pedesaan merupakan sosiologi pemukiman. Sosiologi ini membahas bagaimana manusia di pedesaan tak peduli petani atau bukan, hidup dan bergaul dengan sesama mereka,bagaimana hubungan antar mereka dan dengan penduduk lainnya diatur oleh nilai dan norma dan otoritas apa tindakan mereka berorientasi, dalam kelompok dan organisasi mana berlangsung kehidupan mereka, masalah mana yang muncul dan dengan bantuan proses sosial mana hal ini bisa diselesaikan.

Sebaliknya, sosiologi Pertanian adalah adlah sosiologi ekonomi yang membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanian. Ke dalam ilmu ekonomi makro, biasanya termasuk cabang ekonomi ilmu perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan. Namun pada sosiologi pertanian, memusatkan hampir seluruh perhatiannya pada petani dan permasalahn hidupnya. Tema utama sosiologi pertanian adalah undang-undang pertanian, organisasi sosial pertanian, usaha pertanian, bentuk organisasi pertanian dan masalah sosial pertanian.

Situasi kehidupan manusia yang tergantung pada pertanian ditentukan terutama oleh hubungan mereka dengan tanah (tata tanah), oleh hubungan pekerjaan mereka satu dengan lainnya (tata kerja), dan oleh sistem ekonomi dan masyarakat yang ada di atasmereka (tata kekuasaan). Keseluruhan tata sosial ini disebut sebagai hukum pertanahan (Agraria Tenure).

Ada dua arus utama dalam sosiologi pertanian; yaitu filosofis sosial dan ilmu pengetahuan empiris (positivis). Perbedaan utamanya adalah, pengikut aliran sosial-filosofis berpikir mengenai makna dan tujuan pekerjaan pertanian, membuat penilaian mengenai berbagai bentuk fenomena dan membuat pernyataan normatif bagaimana manusia hidup dan mengorganisasikan dirinya. Aliran positivis mempunyai tujuan yang lebih sederhana, para ahli sosiologi aliran ini ingin melihat berdasarkan kenyataan bagaimana masyarakat yang ada berfungsi dan bagaimana manusia benar-benar bertindak. Mereka ingin menguji secara empiris apakah ada hubungan hubungan timbal balik antara berbagai faktor yang diduga benar-benar ada. Sementara tokoh-tokoh aliran filosofis sosial cenderung meninggalkan dunia nyata dan membangun ideologi, kaum positivis menghadapi ancaman tenggelam dalam temuan aktual masing-masing. Sosiologi pertanian mengamati objeknya secara makro dan mikro. Secara mikro, pusat perhatian sosiologi pertanian adalah usaha pertanian keluarga, pertanian kolektif, dan sistem sosial usaha pertanian. Secara mikro, pusat perhatian sosiologi pertanian adalah organisasi sosial pertanian dalam hubungannya dengan masyarakat dan sistem ekonomi.

Sosiologi pertanian tidak hanya mengamati objeknya, tapi juga mengerti menafsirkan tindakan (menangkap makna peristiwa sesama manusia) sosial dan melalui tindakan tersebut menjelaskan penyebab terjadinya dan dampaknya (Max Weber, 1864-1920). Untuk itu, Weber memperlihatkan dua cara : mengalami kembali secara rasional dengan bantuan logika dan matematika dan secara emosional. Menurutnya, seorang sosiolog terikat oleh tuntutan obyektivitas yang ketat, dapat diuji, dapat diperbandingkan dan logis. Karena itu, mengerti secara rasional lebih cocok baginya daripada mengerti secara emosional.

Sosiologi pertanian dalam dimensi ruang adalah geografi pertanian.
Sosiologi pertanian dalam dimensi waktu adalah sejarah pertanian.
Sosiologi pertanian dalam dimensi normatif adalah hukum agraria.
Sosiologi pertanian dalam dimensi kultural adalah ilmu kebudayaaan.
Sosiologi pertanian dalam dimensi politik adalah politik pertanian.
Sosiologi pertanian dalam dimensi kategori adalah statistik pertanian.
Tokoh-tokoh sosiologi pertanian yang sekarang, ingin lebih daripada sekedar menjadi pengikut politik pertanian ilmiah. Jika sosiologi pertanian adalah sosiologi khusus, ini berarti memang ia mempunyai objek sendiri, tetapi selanjutnya memakai metode, pengertian, teori dan cara pengamatan sosiologi umum. Sosiologi pertanian termasuk sosiologi terapan yang tertua.Pengertian teoritis yang diperoleh dari penelitian adopsi dan penelitian difusi teknologi pertanian banyak mendorong kemajuan sosiologi umum dan cabang ilmu yang terdekat (psikologi sosial,ilmu komunikasi, ilmu ekonomi). Di lain pihak kegiatan sosiolog pertanian dalam mengacu pada ilmu pengetahuan dasar dan cabang ilmu tetangganyalebih banyak menerima daripada memberi.

Ilmu pengetahuan pertanian merupakan studi interdisipliner yang mencakup metode penelitian, permasalahan dan pengamatan berbagai ilmu terhadap sebuah objek penelitian, yakni pertanian. Tujuannya, menambah pengetahuan dari cabang ilmu pengetahuan yang iut ambil bagian juga mengaturnya dalam sebuah model keseluruhan yang dapat menggambarkan, menjelaskan dan memperkirakan fenomena sosial di bidang pertanian.

Hans Rheinwald (1903-68) pencetus ilmu konsultasi pertanian, menjelaskan bahwa insinyur pertanian tidak langsung berhubungan dengan tanaman dan hewan, dengan produksi pertanian atau dengan proses pertanian, melainkan dengan lembaga dan manusia yang menanganinya. Sebagai guru, ia harus menyampaikan pandangan, pengetahuan dan keterampilan; sebagai penasehat, membantu menemukan dan mencari jalan keluar masalah mereka; sebagai seorang wartawan dan pimpinan pemasaran, memberikan mereka informasi dan meyakinkan mereka; sebagai perencana, sukarelawan pembangunan dan pejabat pemerintah, ia mengubah cara hidup dan struktur sosial; sebagai tenaga pimpinan, ia harus memimpin para pembantunya dan mendorong mereka menyukai tugasnya.

Penduduk desa mencari penjelasan mengenai proses sosial di pedesaan dan menuntut prognosis untuk masa depan. Petani mengharapkan dukungan sosiolog pertanian dalam usahanya menemukan suatu kesadaran baru. Sosiolog pertanian harus memberikan data mengenai struktur sosial pedesaan, mengenai kecendrungan perkembangan sosial, mengenai penyakit dalam masyarakat dan keadaan darurat, mengenai harapan dan tuntutan sosial mereka dalam perencanaan tata ruang.

Sumbangan sosiolog pertanian dalam politik kemasyarakatan memang terbatas. Mereka tidak dapat menggantikan politikus dalam mengambil keputusan. Tetapi mereka dapat membantu pengambilan keputusan dengan cara :
-          Menjelaskan defenisi, memberikan batasan objek dan membentuk indikator sosial
-          Menyusun ajaran mengenai hubungan sesama manusia dan perilaku mereka
-          Meneliti hukum dan aturan yang mengatur susunan dan fungsi kelompok serta organisasi sosial
-          Membandingkan tujuan politik alternatif dan sarananya
-          Menelanjangi pandangan dan pendapat yang berlaku sebagai ideologi serta prasangka dan menggantikannya dengan hipotesis, yang telah diuji secara ilmiah
-          Menghilangkan praduga tentang pengertian yang belum diuji secara ilmiah
Sosiolog pertanian menggali pengetahuannya dari berbagai sumber. Sebagian besar bersandar pada sosiologi umum dan psikologi sosial. Sumber pandangan sosiologi didapatkan dari roman, cerita dan kesenian rakyat yang menceritakan lingkungan desa dan perilaku berdasarkan pengalaman sendiri, yang mencerminkan ketegangan sosial di antara penduduk desa begitu juga antara desa-kota, industri dan pertanian atau yang membahas perubahan sosial di desa.
Akhirnya tidak boleh dilupakan hasil penelitian etnologi mengenai masyarakat desa. Dari sumber itu bisa digali pengetahuan yang penting artinya bagi sosiologi mengenai adat-istiadat desa, alat dan metode kerja, keluarga dan jenis kelamin. Terutama sekali jika seorang sosiolog pertanian ingin memperlihatkan alur perkembangan, ia bisa banyak menggunakan risalah etnografi dari studi terdahulu.

Perkembangan Ilmu Manajemen dan Tokoh-tokoh Manajemen

PEMIKIRAN TOKOH MANAJEMEN DUNIA

Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Perkembangan teori manajemen sampai pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Namun sampai detik ini pula belum ada suatu teori yang bersifat umum yang berlaku pada berbagai situasi dan kondisi, setiap teori hanya dapat diterapkan pada masalah yang berbeda-beda, berikut adalah tokoh – tokoh yang memiliki kontribusi dalam perkembangan teori manajemen.

A. Aliran Klasik
1. Robert Owen (1771 – 1858)
Pada awal tahun 1800-an, Robert Owen memperkenalkan teori tentang manajemen personalia. Robert Owen menitikberatkan pentingnya penggunaan faktor produksi mesin dan faktor produksi tenaga kerja. Teorinya menyatakan bahwa bilamana diadakan perawatan pada mesin akan memberikan keuntungan pada perusahaan, demikian pula pada tenaga kerja bila diberikan perhatian berupa kompensasi, asuransi kesehatan, tunjangan dan lainnya oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan pada perusahaan.
Owen meningkatkan kondisi kerja di pabrik, menaikkan usia minimum kerja bagi anak-anak, mengurangi jam kerja karyawan, menyediakan makanan bagi karyawan pabrik, mendirikan toko-toko untuk menjual keperluan hidup karyawan dengan harga layak dan berusaha memperbaiki lingkungan hidup tempat karyawan tinggal.
Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan.

2. Charles Babbage (1792 – 1871)
Charles Babbage mengemukakan bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikkan produktivitas dari tenaga kerja dan menurunkan biaya, karena pekerjaan-pekerjaan dilakukan secara efektif dan efisien. Perhatiannya diarahkan dalam hal pembagian kerja (division of labour) yang memiliki beberapa keunggulan, yaitu : waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru, harus ada spesialisasi dalam pekerjaan (karena banyak waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dan orang tersebut harus menyesuaikan kembali pada pekerjaan barunya sehingga menghambat kemajuan dan ketrampilan pekerja), kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seseorang pekerja bekerja terus-menerus dalam tugasnya, adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada itu-itu saja.
Beliau juga tertarik pada prinsip efisiensi dalam pembagian tugas dan perkembangan prinsip-prinsip ilmiah, untuk menentukan seorang manajer harus memakai fasilitas, bahan, dan tenaga kerja supaya rnendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Disamping itu Babbage sangat memperhatikan faktor manusia, dia menyarankan sebaiknya ada semacam sistem pembagian keuntungan antara pekerja dan pemilik pabrik, sehingga para pekerja memperoleh bagian keuntungan pabrik, apabila mereka ikut menyumbang dalam peningkatan produktivitas. Beliau menyarankan para pekerja selayaknya menerirna pembayaran tetap atas dasar sifat pekerjaan mereka, ditambahkan dengan pembagian keuntungan, dan bonus untuk setiap saran yang mereka berikan dalam peningkatkan produktivitas.

3. Frederick Winslow Taylor (1856 - 1915)
Frederick Winslow Taylor memperkenalkan teori scientific management, teori manajemen yang menganalisis dan mensintesis alur kerja dengan tujuan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Taylor percaya bahwa keputusan berdasarkan tradisi dan aturan-aturan praktis harus diganti dengan prosedur yang tepat, yang dikembangkan setelah mempelajari kinerja individu ditempat kerja. Taylor mengemukakan empat prinsip Scientific Management, yaitu :
a. Menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan sisetiap unsur-unsur kegiatan.
b. Memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.
c. Setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan di dalam menjalankan tugas
d. Harus menjalin kerja sama yang baik antara pemimpin dengan pekerja.
Dalam menerapkan ke-empat prinsip ini, beliau menganjurkan perlunya revolusi mental di kalangan manajer dan pekerja. Adapun prinsip-prinsip dasar menurut Taylor mendekati ilmiah adalah :
a. Adanya ilmu pengetahuan yang menggantikan cara kerja yang asal-asalan.
b. Adanya hubungan waktu dan gerak kelompok.
c. Adanya kerja sarna sesama pekerja, dan bukan bekerja secara individual.
d. Bekerja untuk hasil yang maksimal.
e. Mengembangkan seluruh karyawan hingga taraf yang setinggi-tingginya, untuk tingkat kesejahteraan maksimum para kaayawan itu sendiri dan perusahaan.
Taylor mengatakan bahwa scientific management merupakan tugas setiap manajer untuk mengetahui hal yang terbaik (best of the best) melalui penganalisaan, observasi dan percobaan-percobaan. Observasi yang dilakukannya antara lain : time and motion study, organisasi fungsional dan the taylor differential rate system.

4. Henry Laurance Gantt (1861 - 1919)
Sumbangan Henry L. Grant yang terkenal adalah sistem bonus harian dan bonus ekstra untuk para mandor. Beliau juga memperkenalkan sistem Charting yang terkenal dengan Gant Chart.
Ia menekankan pentingnya mengembangkan minat hubungan timbal balik antara manajernen dan para karyawan, yaitu kerja sarna yang harmonis. Henry beranggapan bahwa unsur manusia sangat penting sehingga menggarisbawahi pentingnya mengajarkan, mengembangkan pengertian tentang sistem pada pihak karyawan dan manajemen, serta perlunya penghargaan dalam segala masalah manajemen. Metodenya yang terkenal adalah rnetode grafis dalam menggambarkan rencana-rencana dan memungkinkan adanya pengendalian manajerial yang lebih baik. Dengan rnenekankan pentingnya waktu maupun biaya dalam merencanakan dan rnengendalikan pekerjaan. Hal ini yang menghasilkan terciptanya Gantt Chart yang terkenal tersebut. Teknik ini pelopor teknik-teknik modern seperti PERT (Program Evaluation and Review Techique).

5. Frank Bunker Gilbreth dan Lilian Gilbreth (1868-1924 dan 1878-1972)
Suami istri ini selain rnempelajari masalah gerak dan kelelahan, juga tertarik dengan usaha membantu pekerja menampilkan potensinya secara penuh sebagai makhluk manusia. Setiap langkah yang dapat rnenghasilkan gerak dapat mengurangi kelelahan. Mereka juga terkenal dengan tiga peran dari setiap pekerja yaitu sebagai pelaku, pelajar dan pelatihan yang senantiasa mencari kesempatan baru, atau terkenal dengan konsep "three position plan of promotion". Banyak manfaat dan jasa yang diberikan oleh manajemen ilmiah, namun satu hal penting dilupakan oleh manajemen ini, yaitu kebutuhan sosial manusia dalam berkelompok, karena terlalu mengutamakan keuntungan dan kebutuhan ekonomis dan fisik perusahaan dan pekerjaan. Aliran ini melupakan kepuasan pekerjaan pekerja sebagai manusia biasa.
Perhatian Lilian Gilbreth tertuju pada aspek manusia dari kerja dan perhatian suamianya pada efisiensi yaitu usaha untuk menemukan cara satu-satunya yang terbaik dalam melaksanakan tugas tertentu. Dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen ilmiah, harus memandang para pekerja dan mengerti kepribadian serta kebutuhan mereka. Ketidakpuasan di antara pekerja karena kurang adanya perhatian dari pihak manajemen terhadap pekerja.

6. Harrington Emerson (1853 – 1931)
Prinsip pokoknya adalah tentang tujuan, dimana dari hasil penelitiannya menunjukkan kebenaran prinsip yaitu bahwa uang akan lebih berhasil bila mengetahui tujuan penggunaannya. Bukti dari pendapat Emerson yaitu adanya istilah Management by Objective (MBO). Dikemukakan 12 prinsip efisiensi untuk mengatasi pemborosan dan ketidak-efisienan, yaitu :
a. Clearly defined ideals
b. Common sense
c. Competent causal
d. Dicipline
e. The fair deal
f. Reliable
g. Give an order, planning and schedulling
h. Schedule, standard working and time
i. Standard condition
j. Standard operation
k. Written standard practice instruction
l. Efficiency reward



7. Henry Fayol (1841 – 1925)
Fayol mengatakan bahwa teori dan teknik administrasi merupakan dasar pengelolaan organisasi yang kompleks. Peranan Fayol dapat disejajarkan dengan Taylor, dua tokoh ini mengemukakan hal yang sama bahwa ada prinsip-prinsi manajemen tertentu yang harus disejajarkan dan dipelajari oleh para manajer dan karyawan. Tapi kedua tokoh tersebut berbeda dalam titik perhatiannya, dimana Fayol menitik beratkan pada manajer tingkat bawah, sedangkan Taylor menitikberatkan pada manajer tingkat menengah dan atas.
Fayol membagi kegiatan dan operasi perusahaan ke dalam 6 macam kegiatan :
a. Teknik produksi dan manufakturing produk, berusaha menghasilkan dan membuat barang- barang produksi.
b. Komersial dengan cara mengadakan pembelian bahan mentah dan menjual hasil produksi.
c. Keuangan antara lain berusaha mendapatkan dan menggunakan modal.
d. Keamanan, berupa melindungi pekerja dan barang-barang kekayaan perusahaan.
e. Akuntansi, dengan adanya pencatatan dan pembukuan biaya, utang, keuntungan dan neraca, serta berbagai data statistik.
f. Manajerial yang terdiri dari 5 fungsi :
1. Perencanaan (Planning) berupa penentuan langkah-langkah yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan-tujuannya.
2. Pengorganisasian dan (Organizing), dalam arti mobilisasi bahan materiil dan sumber daya manusia guna melaksanakan rencana.
3. Memerintah (Commanding) dengan memberi arahan kepada karyawan agar dapat menunaikan tugas pekerjaan mereka
4. Pengkoordinasian (Coordinating) dengan memastikan sumber-sumber daya dan kegiatan organisasi berlangsung secara harmonis dalam mencapai tujuannya.
5. Pengendalian (Controlling) dengan memantau rencana untuk membuktikan apakah rencana itu sudah dilaskanakan sebagaimana mestinya.
Selain hal-hal pokok diatas, masih ada beberapa ajaran Fayol lainnya yaitu :
1. Keterampilan yang dibutuhkan oleh manajer tergantung kepada tempat pada tingkatan organisasi, yang rendah lebih membutuhkan keterampilan dan kemampuan teknis dibandingkan dengan keterampilan manajerial pada manajer tingkat atas.
2. Kemampuan dan ketrampilan manajemen harus diajarkan dan dipelajari, sehingga tidak mungkin hanya diperoleh melalui praktek, timbul tenggelam sepertl orang belajar menyelam tanpa guru.
3. Kemampuan dan keterampilan manajemen dapat diterapkan pada segala bentuk dan jenis organisasi, seperti rumah tangga, pemerintah, partai, industri dan lain-lain.
4. Prinsip-prinsip manajemen lebih baik daripada hukum manajemen, karena hukum bersifat kaku, sedang prinsip bersifat lebih luwes, sehingga dapat disesuaikan pada keadaan yang dihadapi.
5. Ada 14 macam prinsip manajemen dari Fayol, yaitu :
a. Pembagian kerja (Division of labor), yaitu adanya spesialisasi dalam pekerjaan, diaman dengan spesialisasi dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja. Tujuannya adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan terbaik dengan usaha yang sama.
b. Otoritas dan tanggung jawab (Authority and Responsibility) diperoleh melalui perintah dan untuk dapat memberi perintah haruslah dengan wewenang formil. Walaupun demikian wewenang pribadi dapat mernaksa kepatuhan orang lain.
c. Disiplin (discipline), dalam arti kepatuhan anggota organisasi terhadap aturan dan kesempatan. Kepemimpinan yang baik berperan penting bagi kepatuhan ini dan juga kesepakatan yang ada ini, seperti penghargaan terhadap prestasi serta penerapan sangsi hukum secara adil terhadap yang menyimpang.
d. Kesatuan komando (Unity of commad), yang berarti setiap karyawan hanya menerima perintah kerja dari satu orang dan apabila perintah itu datangnya dari dua orang atasan atau lebih akan timbul pertentangan perintah dan kerancuan wewenang yang harus dipatuhi.
e. Kesatuan pengarahan (unity of Direction), dalam arti sekelompok kegiatan yang mempunyai tujuan yang sarna yang harus dipimpin oleh seorang manajer dengan satu rencana kerja.
f. Menomorduakan kepentingan perorangan terhadap terhadap kepentingan umum (Subordination of Individual interest to general interest), yaitu kepentingan perorangan dikalahkan terhadap kepentingan organisasi sebagai satu keseluruhan.
g. Renumerasi Personil (Renumeration of personnel), dalam arti imbalan yang adil bagi karyawan dan pengusaha.
h. Sentralsiasi (Centralisation), dalam arti bahwa tanggung jawab akhir terletak pada atasan dengan tetap memberi wewenang memutuskan kepada bawahan sesuai kebutuhan, sehingga kemungkinan adanya desentralisasi.
i. Rantai Skalar (Scalar Chain), dalam arti adanya garis kewenangan yang tersusun dari tingkat atas sampai ke tingkat terendah seperti tergambar pada bagan organisasi.
j. Tata-tertib (Order), dalam arti terbitnya penempatan barang dan orang pada tempat dan waktu yang tepat.
k. Keadilan (Equity), yaitu adanya sikap persaudaraan keadilan para manajer terhadap bawahannya.
l. Stabilitas masa jabatan (Stability of Penure of Personal) dalam arti tidak banyak pergantian karyawan yang ke luar masuk organisasi.
m. Inisiatif (Initiative), dengan memberi kebebasan kepada bawahan untuk berprakarsa dalam menyelesaikan pekerjaannya walaupun akan terjadi kesalahan-kesalahan.
n. Semangat Korps (Esprit de Corps), dalam arti meningkatkan semangat berkelompok dan bersatu dengan lebih banyak menggunakan komunikasi langsung daripada komunikasi formal dan tertulis.
Banyak kritik yang dilemparkan kepada teori organisasi dan peranannya terhadap prilaku manajer yang efektif. Juga keyakinannya bahwa prinsip-prinsip manajemen itu dapat diajarkan dan dipelajari. Kritik terhadap teori salah satu datang dari Henry Mintzberg yang menyatakan bahwa teori ini hanya sesuai untuk organisasi masa lampau yang lebih stabil dengan lingkungan yang lebih mudah diramalkan. Teori ini juga terlalu berpegang kepada kewenangan formil dan sering antara satu prinsip tidak sejalan dengan prinsip lainnya, seperti antara prinsip Division of Labor dengan Unity of Command.

8. James D. Mooney
Mooney mengartikan organisasi sebagai kelompok orang yang terdiri atas dua atau lebih orang untuk mencapai tujuan tertentu. Ada empat unsur yang harus diperhatikan dalam organisasi yaitu : koordinasi, prinsip hierarki, prinsip fungsional dan prinsip staf.
a. Koordinasi, syarat adanya koordinasi meliputi wewenang, saling melayani, doktrin (perumusan tujuan) dan disiplin.
b. Prinsip hierarki, proses hirarki mempunyai prinsip, prospek dan pengaruh sendiri yang tercermin dari kepemimpinan, delegasi dan definisi fungsional.
c. Prinsip fungsional, adanya fungsionalisme tugas yang berbeda.
d. Prinsip staf, kejelasan perbedaan antara staff dan lini.

9. Max Webber (1864 – 1920)
Menurut pandangannya peradaban barat ditandai oleh kecenderungan orang Eropa untuk menyukai organisasi, rasionalisasi dan birokrasi baik dalam bidang pemerintahan, politik praktis maupun lembaga swadaya masyarakat.
Max Weber mengembangkan teori Manajemen Birokrasi. Ia menekankan pada kebutuhan akan penetapan hierarki yang sempurna ditentukan oleh penetapan peraturan dan garis wewenang yang jelas.

10. Mary Parker Follet (1868 – 1933)
Follet menjembatani antara teori klasik dan hubungan manusiawi, dimana pemikiran Follet pada teori klasik tapi memperkenalkan unsur-unsur hubungan manusiawi. Dia menerapkan psikologi dalam perusahaan, industri dan pemerintahan. Konflik yang terjadi dalam perusahaan dapat dibuat konstruktif dengan menggunakan proses integrasi.
Beliau percaya bahwa adanya hubungan yang harmonis antara karyawan dan manajemen berdasar persamaan tujuan, namun tidak sepenuhnya benar untuk memisahkan atasan sebagai pemberi perintah dengan bawahan sebagai penerima perintah. Beliau menganjurkan kedudukan kepemimpinan dalam organisasi, bukan hanya karena kekuasaan yang bersumber dari kewenangan formil, tapi haruslah berasal dari pada pengetahuan dan keahliannya sebagai manajer.

11. Oliver Sheldon (1894 – 1951)
Filsafat rnanajemen yang pertama kali ditulis dalam bukunya pada tahun 1923, yang menekankan tentang adanya tanggung jawab sosial dalam dunia , usaha, sehingga etika sarna pentingnya dengan ekonomi alam manajemen, dalam arti melakukan pelayanan barang dan jasa yang tepat dengan harga yang wajar kepada masyarakat. Manajemen juga harus memperlakukan pekerja dengan adil dan jujur. Beliau menggabungkan nilai-nilai efisiensi manajemen ilmiah dengan etika pelayanan kepada masyarakat. Ada 3 prinsip dari Oliver, yaitu :
a. Kebijakan, keadaan dan metoda industri haruslah sejalan dengan kesejahteraan masyarakat.
b. Manajemen seharusnyalah mampu menafsirkan sangsi moral tertinggi masyarakat sebagai keseluruhan yang memberi makna praktis terhadap gagasan keadilan sosial yang diterima tanpa prasangka oleh masyarakat.
c. Manajemen dapat mengambil prakarsa guna meningkatkan standar etika yang umum dan konsep keadilan sosial.

12. Chaster L. Barnard (1886 – 1961)
Dalam bukunya The Function of the Executive (1938) mengatakan bahwa organisasi merupakan sistem kegiatan yang diarahkan pada tujuan yang hendak dicapai. Fungsi utama manajemen yaitu perumusan tujuan dan pengadaan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Menurut teorinya yang diberi nama teori penerimaan mengatakan bahwa seorang bawahan akan menerima perintah hanya bila dia memahami dan mampu serta berkeinginan untuk mencapainya. Barnard adalah pelopor penggunaan pendekatan sistem.


B. Aliran hubungan manusia (aliran neoklasik)
1. Hugo Munsterberg (1863 – 1916)
Hugo merupakan pencetus psikologi industri sehingga dikenal sebagai bapak psikologi industri. Bukunya Psychology and Indutrial Efficiency, ia memberikan 3 cara untuk meningkatkan produktivitas:
a. Menempatkan seorang pekerja terbaik (best possible person) yang paling sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dikerjakannya.
b. Menciptakan kondisi kerja yang terbaik (best possible work) yang memenuhi syarat-syarat psikologis untuk memaksimalkan produktivitas.
c. Menggunakan pengaruh psikologis (best possible effect) agar memperoleh dampak yang paling tepat dalam mendorong karyawan.

2. Elton Mayo (1880 – 1949)
Terkenal dengan percobaan-percobaan Howthorne, dimana hubungan manusiawi menggambarkan manajer bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Bila moral dan efisiensi kerja memburuk, maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga buruk. Hasil percobaan Howthorne menyatakan bahwa kenaikan produktivitas bukan diakibatkan oleh insentif keuangan.Rantai reaksi emosional antar pekerja berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, perhatian khusus dan simpatik sangat berpengaruh. Penelitian lainnya yaitu kelompok kerja informal-lingkungan sosial karyawan signifikan terhadap produktivitas.
Dalam pendidikan dan pelatihan bagi para manajer dirasa semakin pentingnya people management skills daripada engineering atau technicall skills, Sehingga konsep dinamika kelompok dalam praktek manajemen lebih penting daripada manajemen atas dasar kemampuan perseorangan (individu). Walaupun demikian ada beberapa kelemahan temuan Mayo yang dinyatakan oleh orang-orang yang beranggapan kepuasan karyawan bersifat kompleks, karena selain ditentukan oleh lingkungan sosial, juga oleh faktor-faktor lainnya yaitu tingkat gaji, jenis pekerjaan, struktur dan kultur organisasi, hubungan karyawan manajemen dan lain-lain. Gerakan hubungan manusia terus berkembang dengan munculnya pemikiran-pemikiran lain yang juga tergolong dalam aliran perilaku yang lebih maju.

3. William Ouchi (1981)
William Ouchi, dalam bukunya "theory Z -How America Business Can Meet The Japanese Challen ge (1981)", memperkenalkan teori Z pada tahun 1981 untuk menggambarkan adaptasi Amerika atas perilaku Organisasi Jepang. Teori beliau didasarkan pada perbandingan manajemen dalam organisasi.


C. Aliran manajemen modern
Muncul aliran ini lebih kepada aliran kuantitatif merupakan gabungan dari Operation Research dan Management Science.
1. Douglas McGregor (1906 – 1964),
membedakan 2 asumsi dasar alternatif mengenai manusia dan pendekatan mereka terhadap pekerjaan. 2 asumsi tersebut memunculkan teori X dan teori Y.
a.Teori X : pandangan tradisional tentang motivasi (pekerjaan yang dibenci oleh karyawan yang harus diberi motivasi dengan paksaan, uang dan pujian)
b.Teori Y : pekerja/orang sudah memiliki motivasi untuk bekerja melakukan pekerjaan dengan baik


Teori X berasumsi bahwa Karyawan Teori Y berasumsi bahwa Karyawan
Tidak suka bekerja Suka bekerja
Tidak membuat ambisi Mampu mengendalikan diri
Tidak bertanggung jawab Menyukai tanggung jawab
Enggan untuk berubah Penuh imajinasi dan kreasi
Lebih suka dipimpin dari pada memimpin Mampu mengarahkan dirinya sendiri

2. Edgar Schein (1928 - ....) ,
mengemukakan dinamika kelompok dalam organisasi
Prinsip Dasar Perilaku Organisasi :
a. Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat (peranan, prosedur dan prinsip).
b. Manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati-hati.
c. Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi.
d. Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan.
Beberapa gagasan yang lebih khusus dari berbagai riset perilaku :
a. Unsur manusia adalah faktor kunci penentu sukses atau kegagal an pencapaian tujuan organisasi.
b. Manajer masa kini harus diberi latihan dalam pemahaman prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen.
c. Organisasi harus menyediakan iklim yang mendatangkan kesempatan bagi karyawan untuk memuaskan seluruh kebutuh an mereka.
d. Komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi dan keterlibat an para karyawan.
e. Pekerjaan setiap karyawan harus disusun yang memungkinkan mereka mencapai kepuasan diri dari pekerjaan tersebut.
f. Pola-pola pengawasan dan manajemen pengawasan harus dibangun atas dasar pengertian positif yang menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi mereka terhadap pekerjaan.


3. Abraham Maslow (1908-1970),
mengemukakan tentang kebutuhan yang memotivasi manusia untuk mendapatkan kepuasan dapat dibuat hierarki. Kebutuhan peringkat bawah harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum kebutuhan peringkat yang lebih tinggi dapat dipenuhi.
Beliau seorang psikolog humanistis, dari USA memperkenalkan teori aktualisasi diri dengan menandaskan bahwa tujuan utama psikoterapi adalah membangun integritas seseorang.
Mengemukakan adanya hierarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan dinamika proses motivasi.
Tingkatan Kebutuhan manusia menurut Maslow sebagai berikut :
a. Kebutuhan Fisologis, hampir semua kebutuhan dasar manusia kebutuhan akan pemelioharaan biologis, makan, minum dan kesejahteraan fisik.
b. Kebutuhan Keamanan, kebutuhan akan perlidungan dan kepastian dalam kehidupan sehari-hari.
c. Kebutuhan Sosial, kebutuhan akan kasih sayang, rasa memiliki dalam hubungan dengan orang lain.
d. Kebutuhan Harga Diri secara Penuh, kebutuhan akan harga diri dimata orang lain, penghormatan, prestise, harga diri, kemampuan diri dan dianggap ahli.
e. Kebutuhan Aktualisasi Diri, tingkat kebutuhan yang paling tinggi, kebutuhan akan self fulfilment berkembang dan menggunakan kemampuannya.
4. Robert Blak dan Jane Mouton (1930 – 1987),
mengemukakan lima gaya kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial (managerial grid)

5. Fred Feidler (1967),
menerapkan pendekatan kontingensi
pada studi kepemimpinan.

6. Rensis Likert (1903–1981),
pada tahun 1960-an Likert mengembangkan empat sistem manajemen yang menggambarkan hubungan, keterlibatan, dan peran antara manajemen dan bawahan dalam pengaturan industri, antara lain : sistem (1) explotatif otoritatif, sistem (2) kebajikan otoritatif, sistem (3) konsultatif dan sistem (4) Partisipatif kelompok

7. Frederick Herzber (1923 – 2000),
terkenal dengan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.
Motivator Factors Hygiene Factors
 Achievement
 Recognition
 Work Itself
 Responsibility
 Promotion
 Growth  Pay and Benefits
 Company Policy and Administration
 Relationships with co-workers
 Supervision
 Status
 Job Security
 Working Conditions
 Personal life

Ia mengusulkan beberapa temuan kunci sebagai hasil dari identifikasi ini:
a. Orang-orang dibuat tidak puas oleh lingkungan yang buruk, tetapi mereka jarang dibuat puas oleh lingkungan yang baik.
b. Pencegahan ketidakpuasan adalah sama pentingnya dengan dorongan dari motivator kepuasan.
c. Faktor higienis beroperasi secara independen dari faktor-faktor motivasi.
d. Seorang individu dapat sangat termotivasi dalam pekerjaannya dan merasa tidak puas dengan lingkungan kerja.
e. Semua faktor-faktor higienis sama pentingnya, walaupun frekuensi kejadiannya berbeda jauh.

8. Chris Argyris (1923 – 2008),
mengatakan bahwa organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya

Aliran Kuantitatie
Perkembangannya dimulai dengan digunakannya kelompok-kelompok riset operasi dalam memecahkan permasalahan dalam industri. Teknik riset operasi sangat penting sekali dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini dalam pembuatan dan pengambilan keputusan. Penggunaan riset operasi dalam manajemen ini selanjutnya dikenal sebagai aliran manajemen science. Langkah-langkah pendekatan manajemen science yaitu :
1. perumusan masalah dengan jelas dan terperinci
2. penyusunan model matematika dalam pengambilan keputusan
3. penyelesaian model
4. pengujian model atas hasil penggunaan model
5. penetapan pengawasan atas hasil
6. pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi
Pendekatan Sistem
Pendekatan ini memandang organisasi sebagai satu kesatuan yang saling berinteraksi yang tak terpisahkan. Organisasi merupakan bagian dari lingkungan eksternal dalam pengertian luas. Sebagai suatu pendekatan system manajemen meliputi sistem umum dan sistem khusus serta analisis tertutup maupun terbuka. Pendekatan sistem umum meliputi konsep-konsep organisasi formal dan teknis, filosofis dan sosiopsikologis. Analis system manajemen spesifik meliputi struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi dan mekanisme perencanaan serta pengawasan.

Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi digunakan untuk menjembatani celah antara teori dan praktek senyatanya. Biasanya antara teori dengan praktek, maka harus memperhatikan lingkungan.